← Semua modul
Modul C · Upskilling JARGI & Proteksi · Bidang Sistem Transmisi 1 · UIP3B Sumatera · 2026

Kompetensi & Manajemen Aset JARGI

KKJ, unmanned substation, siklus aset, kualitas data, dan K3 awareness

8 modul ringkas dari 5 chapter: pengantar, manajemen aset transmisi, konsep pemeliharaan, data & knowledge, dan K3 awareness. Pilih bay pada busbar untuk membuka modul. Setelah selesai membaca, tandai modulnya, lalu uji pemahaman di Kartu Hafalan dan Kuis.

0 dari 8 modul selesai
Busbar materiBay kuning artinya modul sudah selesai
Modul 1 · Pengantar

Tugas JARGI & False Sense of Complacency

INTI

Tugas JARGI lebih dari mencatat, melaporkan, mengisi Power Inspect, dan membuat laporan bulanan. Bahaya terbesarnya adalah rasa puas diri yang menurunkan kewaspadaan.

Masih ada yang menjawab begini?

Mencatat…Melaporkan…Menginput Power InspectMembuat laporan bulananTugas rutin lainnya saja

False sense of complacency

Kondisi psikologis ketika seseorang merasa terlalu yakin atau puas terhadap kondisi yang ada, sehingga kewaspadaan terhadap potensi bahaya berkurang.

Menunda pekerjaanGejala 1
Kewaspadaan berkurangGejala 2
Sering ambil jalan pintasGejala 3

Seperti apa wujudnya?

Jadi gimana?

STAGNASIKodak (1998: 170.000 pegawai, 85% pasar foto kertas dunia) bangkrut dalam beberapa tahun. Nokia: “Kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi entah bagaimana, kami kalah.”
SKILL DEVELOPMENTTerus belajar: experience, training, competence, knowledge, growth. Kompetensi harus naik seiring perubahan teknologi dan tuntutan pelanggan.

Kutipan di materi

“PLN must prove that becoming #1 energy company is not because of monopoly, but because of our best effort to provide magnificent customer experience. Everybody is premium customer.”

Modul 2 · Pengantar

Kebutuhan Kompetensi Jabatan (KKJ)

INTI

KKJ menetapkan kompetensi yang harus dimiliki tiap jabatan. Untuk Junior Technician Jaringan Transmisi & GI, kompetensi teknis inti ditargetkan di level Practitioner.

Jabatan20007729 · Junior Technician Jaringan Transmisi dan Gardu Induk
OrganisasiUIP3B · Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk
JenjangGeneralis · Generalist 1
ProfesiTRS 1.6.3.3 · Operasi Gardu Induk (dahan profesi Transmisi)

Kompetensi teknis inti (target Practitioner)

KodeKompetensiCakupan
TRS.PPJPerencanaan & Pemeliharaan Jaringan TransmisiSKTT, SKLT, SUTT, SUTET + proteksi penghantar (distance, LCD, OCR/GFR, DEF)
TRS.PPPPerencanaan & Pemeliharaan GI PrimaryPMT, PMS, CT, PT, LA, serandang, kabel power, GIS, trafo, kompensator
TRS.PPGPerencanaan & Pemeliharaan Peralatan GIS/GITETJenis, fungsi, batasan operasional, alat kerja dan alat uji GIS/GITET
TRS.PDTAsesmen & Diagnosis Jaringan TransmisiAsesmen, diagnosis, power failure investigation SUTT/SUTET, SKTT, SKLT
TRS.AGSAsesmen & Diagnosis GI SecondaryProteksi GI, alat analisa gangguan, kontrol & meter, AC & DC

Kode lengkap diawali 1.6.3. Kompetensi enabler: Manajemen Risiko (Knowledgeable), Manajemen Kepatuhan (Knowledgeable), Pengembangan & Implementasi SMK3 (Practitioner).

Empat level kompetensi

  1. Knowledgeable: mengetahui dan memahami prosedur, jenis, dan fungsi peralatan. Contoh: menjelaskan fungsi distance relay dan line current differential.
  2. Practitioner: melaksanakan pekerjaan sesuai lingkup dan memecahkan masalah rutin. Contoh: pengujian & setting relai jarak, membaca gambar wiring proteksi.
  3. Advanced: menganalisis, mengevaluasi, memberi rekomendasi. Contoh: merekomendasikan perubahan desain proteksi penghantar.
  4. Mastery: mendesain konsep, strategi, kebijakan, dan metode baru. Contoh: menyempurnakan skema proteksi penghantar.

Kompetensi utama (soft)

AdaptabilityBuilding TrustCollaborationContinuous LearningCustomer Experience Excellence

Daftar lengkap kompetensi GI dan transmisi ada di Direktori Kompetensi (Dirkom), misalnya TRS.AGP (Asesmen GI Primary), TRS.PPS (Pemeliharaan GI Secondary), TRS.PDG (PDKB GI).

Modul 3 · Pengantar

Problem Solving Skills

INTI

Masalah di lapangan diselesaikan dengan urutan yang sama: pahami, pecah, analisis, cari solusi, lalu putuskan.

Memahami masalahGunakan 5W + 1H: What, Why, Who, When, Where, How
Memecah masalahBagi masalah besar menjadi bagian kecil yang lebih mudah diselesaikan
Berpikir analitisNilai informasi, kenali pola, buat kesimpulan logis
Menemukan solusiBrainstorming, evaluasi kelebihan dan kekurangan tiap solusi
Mengambil keputusanPilih solusi yang paling realistis dan efektif

Contoh penerapan

Trip berulang di satu bay: What relai apa yang bekerja, When jam dan cuaca, Where sisi mana, Who yang terakhir bekerja di bay itu, Why dari DFR dan LDS, How mekanisme sinyal trip. Lalu pecah: primer, sekunder, atau DC?

Modul 4 · Pengantar

Keterbatasan Personil & Unmanned Substation

INTI

Pertumbuhan aset GI lebih cepat dari penambahan SDM operator. Jawabannya adalah unmanned substation yang didukung monitoring jarak jauh.

Benchmark utilitas lain

UtilitasJumlah GIPola operasi
KEPCO (Korea)897107 manned, 790 unmanned. Manned untuk GITET dan GI kritikal. SAS IEC 61850 di 150 GI, ~80% GIS
CHUBU (Jepang)1.004Seluruhnya unmanned (GI dan PLTA). Manned hanya GI yang terhubung PLTU
TNB (Malaysia)489Manned hanya GI kritikal (500 kV dan konsumen penting)
EGAT (Thailand)238Manned untuk GITET. Pilot digital substation (< 10)

Nama negara ditambahkan untuk konteks; tidak tertulis di slide.

Empat pilar pengembangan

1 · Online monitoringTrafo, GIS, BMS baterai, thermal imaging switchyard, CCTV ruang 20 kV
2 · Remote switchingDigital substation, HMI mirroring, CCTV switchyard & ruang 20 kV
3 · Remote fault analysisRelay & DFR remote reading, fault locator traveling wave, HMI mirroring
4 · Early warning systemNotifikasi alarm/trip, security alarm, status open-close, alarm banjir & kebakaran

Mitigasi risiko GI tanpa operator

RisikoMitigasi
KebakaranAlarm kebakaran, pemadam otomatis & remote, separasi ruang 20 kV (1 set trafo per ruangan)
Gangguan sosialPagar keliling 6 m, CCTV perimeter, akses terbatas, lampu perimeter
BanjirAlarm banjir, peninggian area GI & panel MK, saluran air, ground tank + pompa, flood barrier
BinatangPagar 6 m, CCTV, akses terbatas, tanpa vegetasi di dalam GI, saluran buang searah
Modul 5 · Manajemen Aset Transmisi

Manajemen Aset Transmisi

INTI

Setiap keputusan aset bergantung pada informasi aset yang dikelola sepanjang siklus hidupnya: acquire, operate, maintain, dispose.

Acuan

High Level Asset Information Standard (HLAIS), Kepdir PLN No. 0373.K/DIR/2022, Oktober 2022. Turunannya: standar asset register, job plan & PM, work order, content management, dan location information.

Siklus informasi aset

RecordCatat data yang muncul dari siklus aset
ManageSimpan di systems of record
AnalyzeOlah dengan tools analitik
ShareBagikan untuk keputusan
DisposeHapus saat tak dibutuhkan

Model konseptual IAM: 6 grup, 39 subjek

1 · Strategy & Planning2 · AM Decision-Making3 · Life Cycle Delivery4 · Asset Information5 · Organisation & People6 · Risk & Review

Dokumen & data per tahap siklus

TahapContoh dokumen / data
AcquireKKP (KKO + KKF), data RKAP, kontrak, status STOP/STAP/STP
OperateSPLN, SK Dir, SOP, RLB & SLO, manual book, fingerprint aset (SAT, FAT, inspeksi tahun pertama), SLD, as built drawing, wiring GI
MaintainIK, Anti BO, 4DX, WO pemeliharaan, laptek/BA, LKS/anomali, Health Index, data petir & tegakan, gangguan & open case, kalibrasi alat uji, manajemen spare
DisposeJustifikasi penggantian, BA penggantian, form ATTB, usulan & persetujuan penghapusan aset

Organization & people

Data SDM organik (UPT, ULTG, GI) dan TAD (security, cleaning service, ground patrol, operator Haleyora), pemetaan shift, dan kompetensi pegawai.

Risk & review

Dokumen kondisi gangguan, emergency bencana & pandemi, manajemen spare, hasil assessment MTU & transmisi, evaluasi RKAP & kinerja unit, evaluasi risiko.

Filosofi alignment kinerja

Visi & MisiRJPP 2024–2028
→
Strategic Objectivestrategy map
→
Performance IndicatorKPI
LEADINGMemberi sinyal apa yang kemungkinan akan terjadi
LAGGINGMencerminkan apa yang sudah terjadi
Modul 6 · Konsep Pemeliharaan

Konsep Pemeliharaan

INTI

Inspeksi di GI diolah bertingkat sampai Kantor Induk menjadi Asset Management Decision, yang kemudian menjadi program kerja operasi dan investasi.

Alur bertingkat

LevelInputProsesOutput
Gardu IndukInspeksi Level 1Pengolahan inspeksi Level 1Anomaly alert, simple repair, further inspection 1
Unit PelaksanaInspeksi Level 2Diagnosa Level 1 + asesmen kondisiCondition index, treatment, kesiapan operasi, further inspection 2
Unit PelaksanaInspeksi Level 3Diagnosa Level 2 + asesmen umurLife prediction, further investigation
Kantor IndukFaktor risiko (kritikaliti bay)Diagnosa Level 3 + asesmen risikoAsset Management Decision → program kerja operasi & investasi

Asesmen per parameter inspeksi mengacu Kepdir 520.K/DIR/2014, dengan sumber data Power Inspect dan hasil lab minyak.

Ujungnya: prioritas per aset

Health Indexkondisi aset
+
Probability of failurerisiko per aset
+
Kritikaliti GIdampak
→
Prioritaspemeliharaan & penggantian

Design review (New Srintami)

  1. Pengujian (SKDIR 520) + standar internasional + expert adjustment → Health Index di Power Inspect
  2. Health Index → prioritas (Kepdir 149), laptek, dashboard, status kerawanan/siaga, visualisasi
  3. Prioritas → evaluasi & tindak lanjut
  4. Tindak lanjut → usulan AI & AO (anggaran investasi & operasi)
  5. Review
Modul 7 · Data, Information & Knowledge

Data, Information & Knowledge

INTI

Good data, good decision. Data berkualitas rendah berarti banyak revisi, pekerjaan lama, hasil kerja jelek, dan salah sasaran.

Enam aspek kualitas data

AccuracySesuai kondisi sebenarnya
ValiditySesuai format dan aturan
CompletenessTidak ada yang kosong
ConsistencySama di semua sistem
UniquenessTidak ada duplikat
TimelinessTersedia tepat waktu

Penjelasan singkat tiap aspek adalah tambahan untuk memudahkan. Tugas utama UPT & Kantor Induk: integrasi data.

Piramida DIKW

WisdomShared understanding · Know why
KnowledgeLewat judgment · Know how
InformationLewat cognition · Know what
DataDiproses (processing)

Information management

Collect, process, disseminate, store, display, protect.

Knowledge management

Create, organize, apply, transfer.

Makin ke atas piramida, risiko keputusan makin rendah.

Modul 8 · K3 Awareness

K3 Awareness

INTI

Pemahaman K3 sudah tinggi, tetapi survei menunjukkan 59% responden masih di kategori Perlu Perhatian. Kuncinya adalah konsistensi menjalankan K3.

PLN Life Saving Rules · aturan utama

Sarung tangan berisolasiWajib pada pekerjaan bertegangan
Cek tegangan & pasang groundingPastikan aman sebelum mulai kerja
Izin kerja validDasar setiap pekerjaan mandatory

Aturan pendukung

Pekerja berkompetenAPD sesuaiFull body harness (ketinggian ≥ 1,8 m)Identifikasi bahaya & risikoTerapkan LOTOPeralatan kerja standarStop Work Authority

Survei awareness Dittrans · 392 responden

Pemahaman K390,23
Prosedur kerja86,27
Faktor non teknis79,38

Skor terendah (yang perlu diperbaiki)

Menyampaikan beban psikologis/keluarga ke pengawas58,93
Bekerja dengan keterbatasan tim69,90
Tertekan saat diminta mempercepat pekerjaan76,72
Fokus terganggu saat waktu istirahat/ibadah77,68
Pengawas pekerjaan menghentikan kerja yang tak sesuai prosedur78,57
Pengawas K3 menghentikan kerja saat unsafe condition/action81,51

Skor 0–100, makin tinggi makin baik (pertanyaan berpolaritas negatif sudah dibalik). Slide menyebut 385 dan 392 responden; angka di sini mengikuti tabel skor.

Sebaran kategori individu

40%Cukup Baik (75–84)
59%Perlu Perhatian (50–74)
1%

0% Sangat Baik (85–100). 1% Buruk (25–49) perlu intervensi segera: audit, rotasi pengawas, pembinaan intensif. Kelompok Perlu Perhatian: pelatihan ulang K3, penguatan pengawasan, kampanye budaya keselamatan.

Contoh perilaku aman

Kenapa tetap terjadi kecelakaan?

KelompokPenyebab
Generasi milenialKurang pengalaman, keterampilan, pengetahuan; tidak bisa mengidentifikasi bahaya; malas bertanya karena tidak mau dianggap “bodoh”
Pekerja seniorOverconfidence: terlalu percaya diri sehingga mengabaikan prosedur, aturan, dan akal sehat
Peran leaderKaryawan belajar dari contoh. Jika leader tidak mempraktikkan K3, tim tidak akan menganggapnya penting

Pedoman perilaku K3: Peduli · Taat · Tanggap

  • Berkomitmen memastikan K3 di seluruh proses bisnis
  • Selalu mematuhi SOP dan regulasi
  • Tidak mengambil jalan pintas dan mengabaikan risiko
  • Proaktif memperbaiki unsafe action dan unsafe condition
  • Melakukan continuous improvement

Ingat

“Tulis apa yang dikerjakan, kerjakan apa yang ditulis.”